Jumat, 02 November 2007

BBB - Bukan Bintang Biasa

Mungkin orang-orang yang mengikuti tribute ini dari awal menganggap saya seseorang yang terlalu kejam dalam mengomentari film dan lain sebagainya, tapi percayalah, bila mereka tidak melanggar hukum alam atau akal sehat, tidak akan dimasukkan ke sini. Tempat ini khusus bagi mereka yang tidak masuk akal... dan saya menduga mungkin akan dipenuhi film Indonesia bila saya nonton film Indonesia. Untungnya saya tidak sering nonton film Indonesia...

Oke, sekarang ke reviewnya.

BBB adalah cerita tentang 5 orang mahasiswa di "Jakarta School of Performance Arts" yang sampai sekarang masih diperdebatkan apakah itu benar-benar seperti itu atau bodohnya translator mereka saja, sampai-sampai Performing Arts menjadi Performance Arts.

5 orang tersebut adalah: Chelsea yang kaya nenek2 (loh, dia 'kan pikun, bener dong kalo saya bilang kaya nenek2), Raffi yang rada gombal (waw, omongannya hampir semuanya gombal. Kalo dia temen saya sudah saya gampar dari tahun kapan), Dimas yang sok keren (bisa main biola, say?), Bella yang "katanya" populer (tapi dia cuma dikasih lihat dikagumi oleh seorang cowok agak nerdy yang namanya saya lupa) dan Ayushita yang digambarkan realistis (ah tapi ujung-ujungnya ketepu juga ma si Raffi yang gombal).

Raffi juga bekerja sebagai penyiar radio BBB dan Chelsea sebagai penulis skriptnya. Bella adalah wakil ketua Raffi. Dimas naksir sama Chelsea pada pandangan pertama (entah mengapa di film ini Chelsea kelihatan seperti Leoni, tapi saya ngga suka 2-2nya sih).

Cerita ini menggambarkan banyak permasalahan di antara mereka, meskipun akhirnya berhasil diselesaikan dan mereka akhirnya melakukan performa dengan membawakan lagu BBB - Bukan Bintang Biasa, yang cuplikan liriknya akan kita bahas di akhir posting ini.

Sama seperti Mengejar Matahari, ada beberapa (banyak sih sebenarnya) hal yang tidak masuk akal di film ini.

Pertama, pada awal cerita ini diperlihatkan Raffi dan Bella yang sedang berciuman di dalam mobil mereka di tepi jalan pada saat hujan turun. Mereka didatangi polisi karena diam di situ untuk waktu yang lama (kebetulan saja polisinya datang?) dan mereka malah diperlakukan seperti seseorang yang telah melakukan pelanggaran besar (padaha mereka 'kan cuma ngetem. Bus juga banyak yang ngetem di pinggir jalan). Raffi menertawakan Bella saat ia tersiram air becek karena ada mobil yang melaju kencang di sebelahnya, dan esok harinya ia langsung putus dengan Raffi.

Waw. Benar-benar menggambarkan hubungan "cewek populer" dengan "cowok populer". Cuma diketawain doang trus putus? Emangnya dari kecil ngga pernah diketawain orang ya, Mbak? Sekalipun nggak? Wah, berarti kamu jarang ketemu orang lain yah. Atau malah kamu ngga punya temen?

Saya nggak akan membahas kepikunan Chelsea lebih jauh sebagai hal yang tidak masuk akal karena pada saat ini saya sedang mengalami hal yang serupa (mudah sekali lupa).

Tapi ada yang tidak masuk akal dari kepikunan Chelsea ini. Seberapapun pelupanya saya, saya tidak akan lupa apakah saya berpacaran dengan orang lain atau tidak. Saat Raffi ingin membuat Bella "jealous", dia mengaku pacar Chelsea, dan Chelsea malah bertanya "Memangnya kita pacaran ya?"

Bo, lu tuh pikun, amnesia, atau autis??? Kayanya ngga ada deh orang yang pikunnya separah itu. Oh. Ato si Chelsea tu sebenernya dah kena Alzheimer. Itu satu penjelasan yang gw terima banget.

Berikutnya, diceritakan bahwa Dimas mengatakan bahwa orang tua Raffi adalah "mami" dan "papi" dia. Saat Chelsea kebetulan bertemu mereka lagi, ibu Raffi mengatakan bahwa anaknya Raffi, bukan Dimas. Chelsea langsung marah pada Dimas (kenapa lagi ni anak. PMS kecepetan ya?) dan malah menuduh Dimas pengecut karena berbohong padahal Dimas mengatakan bahwa "Gw ngga bilang mereka ortu gw. Gw bilang mereka mami dan papi gw. Bener 'kan? Gw 'kan manggil mereka mami dan papi."

Itu namanya bukan bohong, say, tapi memutarbalikkan kenyataan, yang notabene sering gw lakukan juga.

Yang juga nggak masuk akal, saat si Dimas datang untuk meminta maaf pada Chelsea, ia memainkan biolanya di tengah hujan. Pada adegan ini, saya nyaris tertawa lepas karena merasa geli. Sebagai seseorang yang pernah 3-4 bulan belajar biola, saya merasa sangat amat direndahkan. Dia itu sebelum shooting film ini ngga diajarin cara mainnya ya? Jangan-jangan cara megangnya aja nggak dikasi tau.

Sekarang ini dah ngga jaman lagi yang namany lip-sync. Di backgroundnya mengalun lagu yang indah, tetapi kalau anda juga bisa bermain biola dan anda memperhatikan jarinya, anda akan melihat bahwa saat lagunya memperdengarkan 4 nada berbeda, ia hanya sekali menggesek ke bawah tanpa melakukan pemindahan jari yang berarti ia hanya memainkan 1 nada. Malahan waktu lagunya memperdengarkan 1 nada, ia menggesek 3 KALI! Ketahuan deh...

Yang paling aneh adalah bagian di mana Bella marah pada Ayu karena dekat-dekat dengan Raffi. Bella marah-marah karena merasa dikhianati, lalu saat diomeli oleh Raffi yang mengatakan bahwa Bella "tidak mau melihat orang lain bahagia" ia malah tertawa dan mengatakan bahwa ia mendukung Ayu dengan sepenuh hati.

Waw, ternyata cewek populer juga bipolar.

Yang masuk akal tapi menggelikan dari cerita ini adalah pentas mereka yang terakhir. Memang sih katanya drama anak-anak, tapi yang nonton ngga ada anak-anaknya, dan kostumnya itu loh... aduh... serta kostum saat mereka menyanyi... benar-benar menyedihkan. Katanya biaya buat bikin poster segede gajah itu besar banget. Kenapa ngga diambil sedikit trus bo ya dikasih ke perancang atau penjahit gitu buat bikinin baju yang bagusan. Menyedihkan sekali.

Dan sekarang kita akan membahas lirik lagu yang menjadi permasalahan. Buat orang-orang yang nggak mempedulikan bahasa Inggris, mungkin lagu ini terkesan "keren" karena memakai bahasa Inggris juga, tapi buat orang yang bisa bahasa Inggris, mereka akan mati tertawa karena geli.

And when you keep on believing
Thousand ones can be sees by running
The miracles can do things though can’t do
(chorus BBB - Bukan Bintang Biasa)

Nah, kalimat pertama masih bener tuh. Kalimat ke2 mulai ngaco. Ini emangnya yang nge-translate tu anak TK? Harusnya mereka tahu dong kalau dalam kalimat pasif, kata kerja harus menggunakan past participle (seen bukan sees). Dan bagian terakhir, "though can't do", itu sangat amat aneh.

Bila diartikan, akan menjadi seperti: "Dan jika kamu terus percaya, ribuan (ones itu merujuk pada suatu benda, tapi saya ngga yakin dia merujuk pada apa. Mungkin bintang, jadi mari kita asumsikan itu adalah bintang) bintang bisa dilihat dengan berlari (loh emangnya kalo ngga lari ngga bisa lihat?). Keajaiban bisa melakukan hal-hal (namanya juga keajaiban... bodohnya...) meskipun tidak bisa melakukannya."

Haha... bisa melakukan meskipun tidak bisa. Ada yang tau yang namanya kontradiksi???

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Gila, g baru nyadar..Guooobllll***oog tenannnnnn!!!!!! Wkwkwkwkwk (nggak, nggak ngatain u, tapi yg berhubungan ma tulisan u..)

Parah2,malu deh akyuh jd orang bule, eh org Indo..

Sumpeh, tu film jadi kereen n toop banged deh abis lu yg review. G jadi lebih tertarik buat nonton.. (loh??)

Selamat! Anda berhak jalan2 ke Hawaii bersama saya karena memenangkan " IYA-YAH-STUPID-BANGED-MOVII REVIU!" .. Biaya tanggung ndiri.

Asli deh. G cengo baca na. Salud